• About Sipituhuta!
  • Features
  • News
  • The Community

..:: Komunitas Sipituhuta ::..

menjalin kebersamaan untuk sipituhuta!
Home Extensions

Administrator

Admin 1 Medan : Hanson       Yahoo Online Status Indicator

Admin 2 Medan : Rado          Yahoo Online Status Indicator

Admin 3 Batam : Herman       Yahoo Online Status Indicator

Admin 4 Jakarta : Junebet     Yahoo Online Status Indicator

Main Menu

  • Home
  • Munthe! Overview
  • Simarmata Overview !
  • More about Sipituhuta!
  • Info Lowongan terbaru !
  • Artikel Pembaca Sipituhuta !
  • The News
  • Web Links
  • News Feeds
  • Info Bisnis
  • Buku Tamu

Key Concepts

  • Extensions
  • Content Layouts
  • Example Pages

Feed Display

Please make the Cache directory writable.

Situs Testing !

Situs ini masih dalam percobaan !
Siloyo!
Siloyo ! Adalah salah satu usaha yang dirintis warga Sipituhuta dengan sistem belanja online.
by Hanson Production !

Designed by:
Vinindo Multimedia web hosting Hanson Production
Partigatiga Sihapunjung dan Anggaranim PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 11 August 2008 06:00

Pada abad ke-13 hiduplah tiga orang keturunan marga Damanik Sidabariba atau lebih akrab disebut Bariba yang bersaudara, yaitu Parmata Manunggal yang tertua (bukan nama asli tapi gelar), Anggaranim saudara tiri, dan adik mereka Partigatiga Sihapunjung (bukan nama asli tetapi gelar). Ketiganya bermukim di suatu kampung kecil yang dahulu disebut Siantar Matio (Sibisa Lumban Julu, dekat Kota Parapat sekarang). Di masa mudanya Partigatiga Sihapunjung dikenal sebagai seorang pemuda ganteng, demikian juga kakak tirinya Anggaranim seorang gadis jelita dan rupawan, kerjanya sehari-hari hanya bercermin pada mata air. Sementara Parmata Manunggal berbeda dengan keduanya, ia terlahir dalam keadaan cacat, bermata satu dan bermuncung panjang (Si Sada Mata Si Ganjang Unsum). Namun dengan keadaan seperti itu, justru ia tidak kehilangan kepercayaan diri, bahkan ia mampu menampilkan diri sebagai seorang abang yang siap mengayomi adik-adiknya. Kelak ketika adiknya, Partigatiga Sihapunjung mendirikan Kerajaan Siantar, abangnya ini ditugaskan sebagai penguasa di daerah Sipolha.Dalam kesehariannya Partigatiga merupakan seorang pedagang kerbau yang sering melakukan pengembaraan demi memperdagangkan dagangannya. Dalam pengembaraannya sampailah ia ke Silampuyang (dekat Marihat Kasindir, Tiga Balata) dan menetap di kampung itu. Di tempat itu, Partigatiga Sihapunjung kemudian menikah dengan putri Pertuanan Silampuyang bermarga Saragih (Ketika masih berada di Sibisa Partigatiga sudah pernah kawin dan meninggalkan beberapa orang anak di antaranya bernama Si Ali Urung gelar Ompu Barita. Salah seorang cucunya bernama si Bagod Dihitam). Ketika berada di tempat itu, usaha dagang kerbau masih terus ditekuninya hingga mendapat keuntungan yang besar hingga membuat sang mertua bangga terhadapnya. Mengetahui keadaan adik mereka yang berlimpah dengan harta, abangnya Parmata Manunggal dan kakak tirinya Anggaranim kemudian menyusul adik mereka ke Silampuyang, ikatan persaudaraan sebagaimana ketika masih berada di Siantar Matio kini terjalin kembali. Namun tidak lama setelah kebahagiaan itu dirasakannya, Partigatiga tiba-tiba mengalami bangkrut (punjung) besar-besaran sehingga hal itu membuat sang mertua tidak mengaguminya lagi serta menganggap remeh terhadapnya.
Tidak tahan mengalami perlakuan seperti itu, ia kemudian mencoba untuk kembali berdagang, kali ini ia mencoba berusaha berdagang ayam karena modalnya untuk melanjutkan usaha dagang kerbau tidak mencukupi lagi, namun usaha dagang ayam in ternyata tetap mengalami kebangkrutan. Kesedihan dan keresahan kian menyelimuti diri Partigatiga hingga beberapa lama dan hal inilah yang menyebabkannya pergi melanglang buana kembali meninggalkan kampung sang mertua. Dengan membawa sepasang ayam Manuk Sihulabu (mengenai istrinya ikut serta atau tidak dalam perjalanan itu belum ada keterangan yang jelas) pergilah ia menuju arah selatan tepatnya di suatu kampung tempat pertemuan aliran sungai Bah Bolon (kampung Tomuan, Pamatang Siantar sekarang). Pada masa Partigatiga ini di sekitar Pamatang Siantar telah terdapat beberapa perkampungan seperti Pamatang, Naga Bosi, Silampuyang, dan Dolog Malela.
Syahdan, di kawasan itu telah berdiri suatu kerajaan yang diperintah oleh raja Si Tanggang bermarga Sinaga, raja ini dikenal cukup kaya dan menguasai wilayah yang luas sampai ke Tanoh Jawa sekarang (pada masa kerajaan Batangiou dengan rajanya bermarga Sinaga, Siantar masuk ke dalam wilayah kekuasaannya), hingga membuatnya termasyhur sebagai raja penakluk yang disegani banyak orang. Sebagai seorang raja, ia sangat gemar bermain judi dan mengadu ayam (panabung dayok). Dalam setiap permainan, ia selalu juara dan tak terkalahkan oleh siapapun. Mendengar kabar itu, Partigatiga tidak sedikitpun merasa gentar untuk melanjutkan perjalanan ke wilayah kerajaan Raja Si Tanggang.
Di tempat itu ia lalu membuka areal perladangan luas, berkat ketekunannya mengelola ladangnya lantas menghantarkannya menjadi sosok yang kaya dan terkenal serta menjadi pembicaraan banyak orang. Berduyun-duyun masyarakat mendatanginya untuk mengharapkan bagian dari hasil ladangnya, dengan sukarela Partigatiga memberikannya namun dengan syarat mereka harus memanggilnya raja, demi mengharapkan pemberian dari Partigatiga, persyaratannya itu pun mereka setujui. Tidak lama kemudian sampailah berita ini ke telinga Raja Si Tanggang, dengan berangnya ia lalu mengutus orang untuk menyuruh Partigatiga menemuinya, karena Si Tanggang merasa tidak ada raja lain di daerah ini selain dirinya. Dengan menggunakan rakit terbuat dari rotan untuk menyeberangi Bah Bolon pergilah suruhan raja itu menemui Partigatiga ke Tomuan.
Sesampainya Partigatiga ke istana Raja Si Tanggang dengan disaksikan banyak orang, Si Tanggang lantas bertanya pada Partigatiga, “Ise do ho ambia?”, “Raja do ahu”, sahut Partigatiga. Berserulah Si Tanggang, “Bijahonma gan anggo tongon do ho raja i datas tanoh harajaonhu on”, mendengar itu dengan berani bersumpahlah Partigatiga, “Raja do au i datas tanoh na huhunduli on janah bah na huinum on”. Keberaniannya untuk bersumpah karena ia memang sudah mempersiapkan sekepal tanah dan air yang dibawanya dari Siantar Matio. Mendengar pengakuan Partigatiga demikian, Raja Si Tanggang sedikit merasa sangsi, di benaknya berkata “Na tongon do gakni ambia on raja i tanoh on”. Lantas ditanyakanlah hal itu kepada masyarakat yang hadir, dengan spontan mereka menyerukan bahwa Partigatiga memang raja mereka.

Last Updated on Sunday, 06 December 2009 04:47
 

Statistik

Members : 59
Content : 43
Web Links : 6
Content View Hits : 14036

Visitor Counter

counters

Hit Counter

click for free hit counter code

Pengunjung !

Terimakasih sudah berkunjung ke SIPITUHUTA, saran, info, dan apapun yang anda berikan demi kemajuan kita bersama akan kami terima dengan senang hati!
Powered by fotodanvideo.com

Tamu Yang Berkunjung

Hanson Production
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini27
mod_vvisit_counterKemarin24
mod_vvisit_counterMinggu ini27
mod_vvisit_counterMinggu yg lalu194
mod_vvisit_counterBulan ini151
mod_vvisit_counterBulan yg lalu1297
mod_vvisit_counterSemua20657

Online (20 minutes ago): 5
Your IP: 38.107.191.101
,
Today: Sep 05, 2010
Vinindo Multimedia
Visitors Counter
..:: Komunitas Sipituhuta ::.., Powered by Hanson Production! and designed by Vinindo web hosting

valid xhtml valid css